aerin

aerin
just

Rabu, 21 Desember 2011

Aku tak Butuh Cinta,Aku Takut dengan Cinta part II


aku pergi ke rumah yang ayah bangun untuk kami,rumah itu belum sempat di huni karena ahanya aku dan ayahlah yang tahu,sebenarnya rumah itu sudah jadi,hanya saja aku tak tega untuk menempatinya,sekarang,aku tak memiliki siapapun,bibi tak mungkin akan menerimaku,dia sudah terlalu benci padaku,keponakan kesayangannya meninggal karena aku.Dengan langkah berat malam itu juga aku berkemas meniggalkan rumah bibi tanpa ada pesan,bibi juga tidak akan peduli,dan repot-repot mencariku.
Satu tahun berlalu,dan rasa bersalah itu makin menjadi-jadi,aku pernah berfikir ingin menjalani hidup tanpa ada orang yang menyayangiku,satupun,aku juga berfikir tidak akan taerlalu dekat dengan teman-temanku di SMA,karena dengan itu aku bisa lebih mudah mereka lupakan bila aku menghilang nantinya,aku terlalu di buru oleh polisi karena kejadian pembunuhan itu,kalau saja bukan karena teman-teman geng motor indentitasku pasti sudah terungkap.
Di depan kelas aku tak seperti yang lain,membacakan harapan mereka,aku hanya diam dan berkata”Aku gak punya harapan atau keinginan apa yang aku inginkan sebelum aku meninggal di akhir tahun ini,sebelum akhir tahun aku seharusnya sudah mati,haahh,ok!huufttt..mungkin tepatnya harapan apa setelah aku meninggal,emm...tuhan..jika aku meninggal,maukah kau kembalikan mereka kedunia ini,karena mereka lebih pantas hidup di bandingkan aku”ujarku sambil menahan air mata yang terus menetes di pipiku,mungkin mereka tidak tahu dan tidak akan pernah tau dengan kehidupanku,sampai kenaikan kelas 2  ini,tak ada satupun temanku yang tau soal kehidupanku di masa lalu,mereka hanya memandangku sebagai sesosok yang dingin,tapi sebenarnya baik,cuek dan tidak suka dengan hal yang rumit,ada satu kakak kelas yang tau soal setatusku,dan kehidupanku di masa lalu,karena dia orang yang sempat melihatku sewaktu ada pertarungan hebat di umur 14ku,dia yang sempat ingin memukulku tapi entah kenapa dia terdiam dan berrpaling.
Alasan itulah yang memmbuatku tidak mengijinkan Dion menyayangiku lebih dari seorang teman,aku tak kuat lagi bila nantinya akan kehilangan seseorang sebaik dia,”Aku sayang sama kamu,aku cinta sama kamu Tyas”serunya menahanku pergi,akupun berbalik ke arahnya dengan tatapan datar dan kaget,ku lihat dia berjalan tanpa henti ke arahku tanpa melihat sekitar dan langsung mencium bibirku,sontak aku mendorongnya “Apa-apaan kamu ini!”teriakku seraya bejalan dengan cepat meninggalkan dia,satu hal lagi yang memmbuatku tak mau melihat matanya,karena,matanya bercahaya seperti mata kakakku,postur wajahnya juga hampir sama,hanya saja Dion lebih oval dengan rahang yang kuat,alisnya juga lebih tebal dan kulitnya itam manis.
Setelah kejadian itu aku fikir dia tidak akan menggangguku lagi,ternyata aku salah,dia semakin rajin menggangguku dengan tingkahnya,dan caranya mancari perhatianku,sampai akhirnya dia tau tentangku,tentang masa laluku.Malam itu dia mengikutiku,aku tau dia mengikutiku,karena aku selalu sensitif jadi aku tau kalau ada oarang yang mengikutiku,tengah jalan ada segerombolan orang datang,aku kira mereka berjalan menuju ke arahku tapi ternyata salah,mereka berjalan menuju Dion,mereka lanngsung menarik kemeja Dionn danberkata sesuatu,aku tak tahu apa yang mereka bicarakan,tiba-tiba aku melihat ada sesosok yang aku kenal,dan memang benar,orang itu menghampiriku dan berkata “Kamu...kamu yang udah mbunuh adikku kan?”ujarnya sambil menekikku,aku hanya tersenyum kecut sambil berkata”Masih inget sama aku?”ujarku santai,diapun langsung melayangkan tinjunya padaku,ku lihat ada beberapa dari mereka yang mencegahnya untuk melayangkan tinjunya lagi kepadaku,dia pun berteriak “Diaaa..dia yang udah mbunuh adikku!!”ku lihat muka mereka satu persatu,mereka terlihat marah karena dendam,namun aku hanya diam dan tersenyum picik,ku lihat Dion juga menghampiriku,dia pun bertanya “Apa kamu Tyas yang 2 tahun lalu tersagkut kasus pembunuhan ?”ujarnya,”Kamu tanggap juga ya?”timpalku santai,”Dasarr Iblisss..”ujar orang itu melayangkan tinjunya,akhirnya pertarungan pun tak dapat di hindarii.
“Kenapa bisa kamu lakuin itu”tanya Dion sambil tetap menggendongku di punggungnya,dia tahu masalh itu,karena ternyata dia juga ikut gegng motor mereka,dia keluar tanpa ijin dan akhirnya jadi buronan mereka.
“Punggungmu lebih hangat dari yang aku pikir”ujarku sambil tersenyum
Sesampainya di rumahku,”haah,kamu berat juga ya,aku pulang dulu,istirahat jangan kelayapan”ujarnya,aku merasa ada sesuatu yang hilang dan kini kembali lagi,mendengarnya berkata seperti itu,hatiku tentram.Aku hanya memandang wajahnya ketika dia berkata seperti itu,dan entah darimana keinginan itu,aku menarik kerah bajunya,dan perlahan mencium bibirnya “Apa aku masih bisa dapet hatimu?”,”Tentu”
Mulai hari itu,hari-hariku tak sendiri lagi,ada seseorang yang menemaniku,dan dari dia aku bisa lebih terbuka dan tidak takut lagi dengan rasa kehilangan,”Kamu gak usah takut kehilangan mereka ataupun aku,karena sampai kapanpun kita selalu ada di hatimu,selamanya”bisiknya,saat detik-detik pergantian tahun 2010 ke 2011,”Aku sayang kamu”bisikinya lagi sambil mencium keningku,dan tersenyum.
Februari
Untuk kesekian kali aku kehilangan seseorang yang berrharga dalam hidupku.Kanker Ginjal harus meernggut satu persatu kesehatan Dion,tapi dalam sakitnya dia masih melakukan hobynya,fotografer,banyak foto yang sudah jadi koleksinya.
“Tyass”sapa mami Dion,sewaktu aku datang untuk menjenguknya
“Kamu dateng?”,”Kenapa kamu gakk suka?”candaku.
“Maah,aku udah sehat kok,aku boleh ya,bsok tanggal 14 jalan sama Tyas?”pinta Dion
Ku lihat muka mamah dion kurang rela,aku tahu bagaimana perasaanya,takut kehilangan seseorang yang sangat di cintai.Aku pun tak memaksa,tapi tak kusangka,”Boleh sayang,asal kamu harus sehat dulu”,dion pun tersenyum sambil memandangku,aku tak kuasa melihat senyumnya aku tak sanggup,sungguh tak sanggup Tuhan.
“Apaa?...maaf nona,ini tidak bisa,pendonor harusnya sudah meninggal,kalau orang yang masih hidup,itu mustahil”,aku berfikir tanpa otak,hanya satuu yang aku harap Tuhan kumohon kali ini berikan hidup pada seseorang yang aku sayang benar-benar aku sayang.
13 Februari 2011
Dress selutut dengan aksen bunga-bunga di bawah dan atasan kaos bau-abu polos,kalung beraksen rantai kecil,rambut terurai dengan bando hitam bermutiara,sepatu kets berwarna merah muda,dan jam tangan merah muda,yang di hadiah kan Dion di hari ultahku ini,kemarin dia sudah memberiku kejutan yaitu jam tanagn ini,recananya hari ini aku dan dia akan bejalan-jalan ke Bukit bintang,kebetulan,rumah ayahku dekat sana.
Dengan mobil jazz yang biasa dia pakai untuk menjemputku,”Ayo masuk..”ujarnya lewat jendela mobil,seperti biasa,senyumnya mengemmbang indah,
Malam itu aku lewatkan dengan peuh kebahagiaan,aku tak ingin ada luka lagi ataupun ada tangis lagi.Sepulang dari tempat itu,”Stoopp!”ujarku,”Ada apa?”tanya Dion,kulihat dia belum benar-benar sehat,walaupun dia berkata dia sudah sehat,dengan seksama aku mmperhatikan wajahnya,memegang wajahnya dan merabanya satu persatu,mata yang selal memandangku,hidung yang selalu menghirup segarnya udara di dunia ini,bibir yang indah,yang selalu mengucap kata cinta padaku setiap waktu,bibir yang pernah mengecup keningku,pipiku,dan bibirku,akankah ini berakhir??..
“Kamu kenapa?,kenapa minta berhenti..kamu”belum selesai dia bicara,aku sudah menngecup bibirnya,entah sudah berapa kali aku lakukan itu.
“Kamu kenapa?”tanyanya serius
“Aku uturun disini”jawabku tanpa memandangnya,berjalan keluar tanpa berhenti,ku lihat dia mengejarku tapi tak ada guna,taxi yang aku berhentikan lebih kencang melaju dari langkah kakinya,amaf Dion maaf,ini demi kamu.
Dalam kamar aku hanya berdiri denga memgang pisau di tangan kananku.
14 Februari
“Apa dokter?cangkok?apa bisa?”
“Sudah ada pendonornya bu,ini sudah terlalu parah,ini bisa di lakukan dengan transplantasi ginjal”
“Baiklah”jawab mami Dion sambil menatap kedalam kamar dimana terbaring lemas seseorang  yang sangat ia cintai.
“Tyasss...”gumam dion,”Dia pasti dateng sayang,sekarang kamu oprasi dulu ya,dia pasti dateng,pasti”ujar mamah dion dengan menitihka air mata.
Beberapa bulan Kemudian.
Tak ada yang tahu tentang keberadaanku,bahkan teman-teman sekolahku,aku hanya meninggalkan surat pengunduran diri dari sekolah untuk pindah ke Australia,dan menetap disana,Mamah dion,dia hanya tau aku ke Australia.
Tapi semua itu terbongkar setelah penjaga rumahku datang untuk memberikan kado ulang tahun yang sudah jauh-jauh hari aku siapkan untuk dion,karena jarak ulang tahunku engan dion hanya 1 bulan tepatnya 13 Maret.
“Ini dari tyas?,terus tyasnya dimana?kenapa dia gak dateng,dia kan bisa pulang sebentar dari ausi”ujar dion kesal
“Australia?siapa den yang ke australia?”tanya penjaga rumahku
“Loh?tyas kan yang ke ausi,masak bapak gak tau”,muka penjaga sekolahku seedikit curiga,karena dia yang aku suruh menandatangani surat pernyataan waktu itu,”Enggak tu den,apa mungkin?,emm den mau ketemu non Tyas?”tanyanya,”Bisa pak?”ujar dion tersenyum,
Sore,mereka meluncur ke tempat tinggal penjaga rumahku,sesampainya disana,”Tyasnya mana pak?”tanya Dion girang,” Itu den”ujar penjaga rumahku sambil menunjuk ke arah gundukan tanah bernisan.Tatapan dion,tatapan orang yang tidak percaya dengan kenyataan,penjaga rumahku menceritakan kejadian aslinya,aku tak tega bila melihat air mata dion yang menetes sambill mengusap-usap nisanku dan sesekali terisak memanggil namaku,”Neng tyas sempet bilang den sama saya,pak kalok aku pergi bapak pulang ya,kerumah,atau bapak bisa nempatin rumah ini,tolong jaga baik-baik,bapak janji sama aku,kalok bapak gak pernah ninggalin aku,ok”jelasnya,”ini den,neng tyas sempet megang ini,sebelum dia meninggal”penjaga rumahku menyodorkan sebuah cincin yang di bagian dalamnya terukir inisial DiTa,”Makasih sayang,buat semua hadiahmu,aku bajal jaga baik baik ginjal yang kamu kasih ke aku,aku sayang sama kamu,sampai kapanpun,sampai kapanpun”

1 komentar: