Sebuah keajaiban mampu melihat keindahan dunia dengan segala isinya.Andai saja itu terambil darimu,hanya melihat keheningan,hanya melihat kegelapan dan tak mampu merasakan keindahan dunia yang di ciptakan-Nya,apakah yang akan kau lakukan?
Hujan deras membasahi pekarangan rumahku,yah!kata ayah begitulah keadaan ketika aku lahir di dunia ini,kata ayah wajahku mirip sekali dengan bunda,dari mataku,hidungku,bibirku,semuanya.Inginku melihat bunda tapi keinginan itu harus di urungkan,saat umurku 1 tahun,bunda meninggal karena leukimia,aku sedih sekali,tapi aku bahagia karena masih ada ayah disisiku,kesedihanku tak cukup sampai disitu,saat aku berumur 2 tahun lebih 3 bulan,aku terkena penyakit,entah penyakit apa,tapi itu yang membuat kedua jendela duniaku harus terenggut,hanya kegelapan yang tersisa.Di umur 4 tahun,ayah meninggalkanku sendiri,entah apa tapi mungkin dia sudah tak sanggup lagi mengurusku,di tambah dia sudah memiliki perempuan lain yang ia cintai.
“Ayah,kita mau kemana?”tanya ku girang,aku berfikir ayah akan mengajakku jalan-jalan ke kebun binatang atau tempat wisata lainnya.
“Ki..ki..kita mau..mau..jalan-jalan,ya!kita mau jalan-jalan sayang”jawabnya sedikit terbata-bata,jujur aku tak merasakan hal-hal yang mencurigakan saat itu,sampai “ee..sayang ayah mau ke toilet dulu,ayo turun”ujarnya,menggendongku”Nahh,kamu tunggu disini ya,ayah mau ke kamar mandi dulu”,aku mengangguk.
Berdiri menunggunya cukup melelahkan,apa yang ayah lakukan, kenapa lama?aku hanya melakukan apa yang ayah katakan padaku.Hujan mulai turun membasahi wajahku,aku tak tahu harus bagaimana,hanya berdiri memeluk boneka tedy kesayanganku,sesekali aku memanggil ayah,berharap dia cepat membawaku pergi dari tempat ini,
“Ayah..ayaaaahh..ayah dila basaah ayah,ayahh!”rintihku,berharap di acepat kembali.
Aku lelah,duduk terdiam dan menangis memanggil nama ayah,”ayaaah..!”ujarku tersedu-sedu
“Ya ampun,anak manis kenapa kamu hujan-hujanan,mana orang tuamu”ku dengar ada seseorang yang mendekat,dan membangunkanku.
“Ayaah..dia bilang ke kamar mandi tapi sampai sekarang dia belum keluar-keluar”jawabku tanpa takut sama sekali.
“Astaga,anak manis,di tempat ini gak ada kamar mandi,dimana rumah kamu,biar bibi antar pulang ya?”tawarnya,ternyata ayah meninggalkan aku sendiri,hanya karena wanita itu?setega itukah ayah?bukankah dia berjanji tidak akan meninggalkan aku sendiri?
“Aku gak tahu rumahku dimana,aku gak bisa melihat bi”jelasku,aku berfikir kalau akau kembali,ayah pasti akan melakukan hal yang sama,berusaha meninggalkan aku sendiri,karena aku sempat mendengarnya berkata dia malu memiliki anak cacat,seperrti aku,yang tidak bisa melihat,wanita itu juga berrusaha membuangku,menjauhkan aku dari ayah,kalau bukan karena bujukan wanita itu,pasti ayah masih bersamaku,dan tidak meninggalkan aku seperti ini.
Bibi baik itu membawaku kesuatu tempat,dia bilang ini rumahnya,dia menampung anak-anak yang dibuang kejalanan seperti aku,”terimakasih bi”ujarku,berusaha tersenyum,”sama-sama sayang,yaudah,kita keringin badan kamu dulu ya,habis itu,baru kita makan,kamu laperkan”ajak bibi baik itu,yang belum ku ketahui namanya,”Bibi..bibi siapa namanya?”tanyaku sambil mengeringkan badanku,”Nama bibi,anya,kamu siapa?anak manis”tanyanya,”Aku dila”,”Wah namanya bagus,pantes orangnya cantik,ayo ganti baju dulu,nanti habis ini,bibi kenalin ke temen-temen kamu yang lain ya”
Sejak itu,aku tinggal bersama bibi Anya,sekarang aku mulai memanggilnya bunda,sama seperti anak-anak lain di tempat ini,disini ada sekita 10 anak asuh yang di miliki bunda,ada yang cacat sepertiku,ada juga yang tidak,sebenarnya masih banyak anak asuh bunda,tapi yang lainnya dipindahkan ke panti asuhan yang bekerjasama dengan bunda,karena rumah bunda tidak terlalu besar untuk menampung semuanya,apalagi bunda hanya menerima pesanan kue,uangnya tak cukup menghidupi lebih dari 10 anak asuh,10 saja masih kurang-kurang.Beberapa kali aku mengobrol dengan bunda tentang mataku,ternyata mataku bisa dioprasi dan di ganti dengan yang baru,istilah medisnya cangkok,tapi itu butuh uang yang banyak,aku juga tak memaksa bunda mewujudkan inginku ini.
“Kalau kamu mau bunda bisa usahain “
“gak usah bunda,gak usah,uangnya buat makan kita sehari-hari aja”ujarku,padahal dalam hati aku ingin sekali oprasi mata,aku hanya bisa mengenali orang dengan meraba wajahnya,untung mataku ini tidak kelihatan seperti mata orang buta,masih utuh hanya saja bagian dalamnya yang rusak.
Disini aku masih bisa mengenyam pendidikan,walau tidak secara formal,Kak Andita,dia guru di SMPN 1 ,dari dia aku bisa mempelajari pelajaran anak-anak SMP,dia juga bilang aku ini anak yang cepat sekali mempelajari hal baru,
“Nah itu dila bisa”itulah ekspresinya ketika aku berhasil mnjawab pertanyaanya,aku juga belajar pelajaran SMA dari anak asuh bunda,namanya Kak tasya,dia manis sekali,suaranya lembut sama seperti bunda,dia anak kandung bunda,anak satu-satunya,kak tasya juga cuma punya 1 orang tua,ayahnya meninggal karena kecelakaan kerja,ada satu lagi kakakku,namanya kak zila,dia baru kulliah semester 1,dia yang dekat sekali denganku,dia cantik,dia sering mengajakku ke tempat kuliahnya,dia tak malu sedikitpun memiliki adik buta sepertiku,dia selalu menjawab,
“Biar buta tapi dia cantik,dan dia adikku”begitulah yang sering dia katakan,ketika melihat ada orang yang mengejekku
“Kakak,maaf ya,gara-gara aku”
“Udah ah gak papa,mereka sirik aja sama kamu,huh,dasar”.Kata teman-teman kak zila,kak zila itu tomboi,setiap kuliah hanya memakai blazer hitam atau putih,dan kaos serta jeans ¾ ,terkadang dia juga memakai topi,dari kak zila aku punya banyak teman dari luar,tak hanya dari lingkungan rumah saja,banyak dari mereka yang memujiku cantik dan mirip dengan kak zila,tapi aku tak bisa membuktikan itu,karena aku tidak bisa melihat wajahku sendiri,paling-paling merabanya saja,dan membayangkannya.
Walaupun aku buta,tapi aku bisa memainkan beberapa alat musik,seperti biola dan piano,tak mudah menghafalkan tiap-tiap nadanya,aku belajar itu sedari umur 7 tahun,awalnya aku hanya ikut-ikutan kak zila memainkan piano,lama-lama bunda tahu dan bunda mengajariku bermain piano,begitu juga biola,kalau biola kak tasya yang mengajariku,dia senang mendengarkan melodi-melodi yang aku mainkan,pernah sekali aku tampil di cafe temannya kak zila,melihat bakaatku managernya menawariku bermain piano disana,aku mau tapi bunda khawatir kalau-kalau ada apa-apa.
“waah,lagi nlamunin apa nih”tanya sila,salah satu anak asuh bunda,dia selalu jail dengan yang lain,tapi dia baik padaku,dia seumuran denganku,magkanya aku juga dekat dengan dia.
“Aku pengin banget ambil job di cafe itu,itung-itung bantu bunda,tapii,bunda”ujarku
“Aku sih setuju aja,tapi kalau bunda gak ngebolehin,aku mending gak aja,tapi,kalau kamu emang udah bulat kenapa enggak,kebetulankan sekolahku deket situ jadi kalau pulang kita bisa bareng”ujar sila.
“Oh ya,kalau gitu kita coba,janga bilang bunda dulu”sambungku
Siang sekitar jam 2,aku siap-siap untuk pergi ke cafe itu,memakai dress chiffon selutut dan rambut di kucir kebelakang,aku berangkat dengan alasan ke toko buku,terpaksa aku membohongi bunda,tapi ini demi membantu bunda,pekeerjaan kak tasya dan kak andita kurang membantu,karena mereka hanya guru honorer,apalagi sekarang anak asuh bunda tambah 5 lagi,masih bayi-bayi lagi.
Di jalan aku berusaha dengan hati-hati melangkah,aku sudah terbiasa jalan sendiri,tapi belum pernah sejauh ini,karena itu aku harus hati-hati,di tengah jalan.
Braaakkkk...
Aku menabrak seseorang hingga buku-buku yang ia bawah jatuh,aduh kenapa bisa seperti ini
“Maa..maaf yaa”ujarku takut
“Iaa gak papa..tunggu,kayaknya aku kenal kamu”ujar orang itu,aku tak berani menoleh dan terus berusaha merapikan bukunya
“Kamu adiknya zila ya?”tanya orang itu,aku juga tak asing dengan nada suara itu,sedikit serak-serak dan lembut
“Aku Lukas,kita pernah ketemukan?kalau gak salah waktu kamu ikut ke kampusnya zila iyakan?”tanyanya.
“Oo..kak lukas,iya aku dila,maaf ya kak bukumu jadi berantakan”ujarku
“Iya gak papa,kamu mau kemana,aku anter ya?”tawarnya
“gak usah-gak usah,kalau di anter aku gak afal-afal sama jalannya”
“Aku temenin jalan kakik,motorku biar aku titipin disini dulu,ya?”,aku pun mengangguk,ya!itung-itung temen ngobrol selama perjalanan.Di sepanjang perjalanan aku dan kak Lukas banyak bercerita,ternyata dia orangnya enak di ajak ngobrol.
“Ternyata kamu mau kesini?”tanyanya
“Pulangnya jam berapa?”tanyanya lagi
“Emm..gak tahu..kayanya agak malem,kenapa kak”tanyaku balik
“Yaa...kasian aja kalau kamu jalan sendiri,malem-malem lagi,mau aku anter pulang?”tawarnya,aku hanya tersenyum malu,”Heh kok malah senyum?mau enggak?”,”Emm kalau gak ngrepotin,mau-mau aja”jawabku.
Sepulangnya dari cafe,
“Tunggu,kak,mau gak bantu aku?”tanyaku sebelum turun dari mobil
“Emm..bantu apa?”jawabnya
“Nanti,bilang sama bundaku ya,kalau tadi dijalan sepulang dari toko buku,aku ketemu kakak terus di ajak makan sampek malem,ya?kalau enggak aku pasti di marahin buda,yaa kak pleas?”pintaku
“Ha?haha...jadi kamu minta aku bohong sama bundamu,haaah,ckck,jadi kamu tadi keluar ijinnya ke toko buku?dila..dilaaa..!”ujar kak lukas heran,
“Kak,pleasss ya?”
“terus kalau aku bantu kamu ni,besok-besok kamukan pulang malem lagi,kamu mau ngomong apa?”tanyanya
“Yaa...emmm”,”Tu kan bingung,gimana kalau aku bantu mintain ijin ke bundamu”,aku langsung kaget,gimana kata bunda nanti,dia pasti marah.Tapi kak lukas ada benernya juga,lambat laun bunda juga akan tau,aku pun menyetujui ide kak lukas,jujur aku jadi takut masuk rumah,tanganku dingin,dan entah bagaimana ekspresi mukaku.Mungkin kak lukas melihat mukaku yang takut dan tangan yang dingin,hingga dia menggandengku,dan berkata”Gak usah takut,ayo”seketika rasa takutku mulai hilang mendengar perkataan kak lukas.
Kami mulai masuk kedalam rumah,suasananya biasa-biasa saja tapi menurutku ini menegangkan,mebuatku selalu menarik nafas panjang –panjang.Orang pertama ayng menyapa kami adalah kak tasya,
“Eh dila,sama temennya ya,ayo masuk”ujar kak tasya mempersilahkan
“Kak tolong panggilin bunda ya”ujarku,kak tasya pun memanggilkan bunda
“Loh lukas,kok ada disini?”tanya kak zila heran,kak lukas pun menjelaskan maksud kedatangannya,
“Eh ada tamu,ada apa ya,katanya nyariin bunda?”tanya bunda padaku,aku semakin deg-deg’an,aku hanya diam menunggu obrolan mereka.
“Jadi,maksud lukas kesini,mau mintain ijin dila kerja di cafe itu?”tanya bunda
“Iya, tante...cepat atau lambat pasti tante juga akan tau ,jadi aku kesini mau bantu dila dapet ijin kerja disana”,”Bunda..kasih ijin ke dila ya”sambungku
“Aku janji,bantu jagain dila,”ujar kak lukas meyakinkan,”Iyalah bun,kasih ijin,dila kan juga udah gede”tambah kak zila sambil mengelus pundakku.
“Haaah..kalau gitu,bunda kasih ijin,tapi kamu janji,jangan pulang lebih dari jam 6,tante pegang janji kamu lukas,dan omongan kamu zila”aku memeluk bunda sebagai tanda terimakasihku.
to be continue
so sweet!!
BalasHapus