aerin

aerin
just

Kamis, 22 Desember 2011

Pelangi Matamu part II


“Emang kita ada dimana kak?”,”di bukit bintang..disini pemandangannya bagus,pemandangan lampu kota,mirip bintang”ujarnya”Oya,kalau aku boleh tau,hal apa yang paling kamu mau itu terwujud?”tanyanya,kedengarannya sangat serius,”Aku mau suatu  hari nanti,kalau aku punya anak,aku bisa liat wajahnya”,
”Aku denger,matamu juga bukan buta pernmanen ya?jadi masih ada kesempatan buat kamu bisa liat dunia ini”,
“Iyaa kak”jawabku lirih
“Haah..kok manggilnya kak,bisa gak gak usah manggil aku pakek KAK?”
“Terus manggil apa dong”sambungku
“Lukas aja,,gak usah pakek kak”,aku heran dan apa alasannya dia minta aku manggil dia tanpa sebutan kak?,dudukk berdua dengannya membuat jantungku berdentam lebih cepat dari biasanya,sebenarnya ini bukan pertama kali,sewaktu dia duduk disampingku saat perayaan gaji pertamaku aku juga merasakan hal yang sama,apakah ini tanda-tanda aku jatuh cinta?
“Dila..aku punya hadiah buat kamu”
“Ooh ya?..”ujarku sambil membalikkan badan kearahnya,kalau soal hadiah aku yang nomer satu
“Tapi kamu diem ya,”ujarnya,aku pun mengangguk dan menunggu apa hadiahnya,aku menunggu dan akhirnya.
“Itu hadiahku,”ujarnya membisikiku,dia mencium bibirku?apa benar ini kenyataan?atau hanya mimpiku saja?
“Kakak..”ujarku lirih,”Aku udah lama suka sama kamu..rasa ini makin berkembang setiap harinya”
Hari berlalu sama seperti hari-hari biasa namun bedanya kini ada dia yang siap menemaniku,menjadi mataku, jika ada hal baru dia pasti ceritakan itu padaku,membuat gelap menjadi indah untukku.Baru-baru ini aku juga di kenalkan pada kedua orangtuanya,aku kira mereka tidak akan menerima keadaanku,tapi sungguh tak ku sangka mereka menerimaku dengan hangat,menguatkan hatiku bahwa kekurangan adalah kelebihan,adik lukas juga baik,dia anak yang manis,rambutnya bergelombang seperti rambutku,kalau besar dia pasti cantik.Sampai suatu ketika,aku tak bisa semudah dulu menemui lukas,entah kenapa,akhir-akhir ini baunya juga lain,ada bau-bau obat di tubuhnya,tuhan apakah dia sakit?tapi kenapa dia tak memberitahuku?andai saja aku bisa melihat.
Sudah seminggu dari terakhir kali aku bertemu dengannya,saat dia datang dan mengobrol denganku seharian,hingga dia tertidur di bahuku.Aku tak tahan dengan sikapnya yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu dariku,aku mencari tahu lewat zila,namun zila tak tahu,teman-teman bandnya juga tidak tahu,terpaksa aku harus pergi kerumahnya.
Tok..tok..tok
“permisiii”ujarku,mengetuk pintu
“Iyaa,,”terdengar sautan dari dalam
“Ooh..kak dila,ayo kak masuk”kata syifa,adik lukas
“Kakak kamu mana?..mama kamu mana?”tanyaku,sambil mengikuti syifa yang menggandeng tanganku
“emmm tunggu bentar ya kak,kakak duduk duluu”sambungnya,setelah beberapa menit,
“Eh dila..”sapa mama lukas,aku pun memberitahu maksdu kedatanganku kemari “Tunggu sebentar ya,tante ganti baju dulu”
Kami meluncur ketempat lukas,kata mama lukas,dia tidak ada di rumah,dia ada disuatu tempat,
“Lukas juga udah lama pengin ketemu kamu..tapi,tiap tante mau ngajak kamu kesana,lukas gak mau,kamunya juga sibuk”jelas mama lukas
“Emang lukas ada dimana tante?kenapa dia kayak nyembunyiin sesuatu dari aku”,dia hanya diam dan terus melajukan mobil.
Sesampainya disana,aku mencium bau rumah sakit,apa? “Udah lama,lukas di rawat di rumah sakit,karena penyakitnya,obat-obatan udah gak ada efeknya lagi buat dia,dia kanker otak”,rasanya sulit menelanan ludah.
“kak lukas..kak dila disini,kakak bangun dong..”ujar syifa berusaha membangunkan lukas yang terbaring lemah di tempat tidur,dengan selang di hidung,dan infus.
Membantu mereka,setiap hari aku datang,membacakan sebuah arti kata dalam setiap pertemuan,seperti arti dari memberi sapu tangan di awal perjumpaan,itu artinya sebuah kehangatan yang di beri diawal,dan kebahagiaan di sepanjang perjumpaan dan lain-lain,aku mendapatkannya dari bunda.setiap detik aku berharap dia meresponku,setidaknya membuka mata dan melihatku,itu sudah membuatku senang.
1 tahun kemudian...
Udara hari ini terasa lebih segar,lukas sudah memberi tanda-tanda lebih baik,terakhir dia merespon dengan menggerakkan tangannya,ternyata usaha kami tak sia-sia.Dan hari ini aku di telfon kalau dia sudah siuman,aku dan zila serta bunda datang kesana.
“Dia udah nunggu kamu..”sambut mama lukas,mengantarku masuk kedalam
“Diii..laaa..”ujar lukas lirih membuatku berkaca-kaca,tak tahu berkata apa,aku duduk di sampingnya sambil memegangi tangannya
“Maaff..”, “Untuk apaaa??kamu gak salah apa-apa kok”timpalku,
“lukas..tanganmu dingin...”sambungku,”Lukassss..”seruku,kenapa dia diam saja,”Lukasss..lukasssss...lukassss”serukuu,disisi lain,mama lukas masuk dan membawaku keluar,aku mendengar ada derap kaki yang sangat keras menuju kamar lukas,aku tak peduli pada keadaan aku hanya berteriak,meneriaki nama lukas,aku takut ada apa-apa dengannya.
“Maaf bu,kami sudah tidak sanggup lagi”ujar dokter yang keluar dari kamar itu,sontak mama lukas menangis tak tertahankan,kakiku rasanya lemas,aku terduduk dan menangis sejadi-jadinya,dan tak hanya kami,semuanya juga sama,merasa kehilangan.
Ting..toong..ting..tong..
“Iyaa..”...
Mendengar suara orang berbincang-bincang,aku keluar dan bertanya”Siapa bunda?”, “Ini dokter Indri,yang sempat menawarimu cangkok mata,dia sudah mendapatkan donor mata,dan dia datang kesini,mau menawarimu oprasi cangkok mata” jelas bunda “Masalah dana ibu dan dila gak usah khawatir,ada seseorang yang mau mendanai oprasi ini”sambung dokter Indri,hatiku rasanya senang sekali,ternyata di balik kesedihanku kehilangan lukas masih ada kebahagiaan untukku.
“Bundaa aku takut..”ujarku dalam perjalanan ke kamar oprasi
“Tenang sayang..semuanya pasti berjalan lancar”
6 jam berlalu,dan oprasi ini berjalan dengan sangat lacar.
“Bunda..kapan ini bisa di buka..aduh gatel”ujarku tak sabar
“Nanti dila..sebentar lagi”kata bunda menenangkanku.Menunggu berjam-jam, “Selamat malam dila..”sapa dokter indri, “Ayo kita buka perbannya”sambungnya,ku sambut kata-kata itu dengan senyuman,tak sabar lagi melihat indahnya dunia,yang selama ini gelap di duniaku.
“Naahh..sekarang coba di buka matanya”, “Aku..aku bisa melihat..bundaa,bundaaa”ujarku sambil meraba-raba,melihat  tanganku,wajahku,tak lupa aku meraba satu persatu wajah seseorang yang sudah 13 tahun menjadi bundaku,dia cantik sekali.
“Senengnya udah bisa ngliat lagi”ujar dokter Indri,aku hanya tersenyum puas.
“Dokter mata ini cantik,warnanya coklat muda,pasti yang punya mata ini orangnya juga cantik,kalau laki-laki pasti dia tampan”kataku,”Ini..surat dari orang yang mendonorkan matanya ke kamu” aku mengambil surat yang di sodorkan dokter indri
Aku memutuskan mendonorkan mata ini padamu karena aku juga ingin kau merasakan indahnya dunia,melihat burung-burung beterrbangan,bunga-bunga bermekaran,aku tak ingin kau hanya mendengarnya saja,terlalu banyak kebahagiaan yang kau berikan padaku,ini saatnya untukku membagi kebahagiaanku padamu,walau hanya sekejab aku merasakan sayangmu,tapi ini lebih dari segalanya bagiku,gunakanlah mata itu dengan baik,lihatlah hal-hal yang baik,selalu tersenyum dan jangan menangis dengan mataku!,aku sayang kamu dila (Lukas)
Ternyata maksudnya menanyakan keinginanku yang ingin di wujudkan adalah ini?
Apa kau tahu aku tak membutuhkan mata lagi untuk melihat semasa kau masih ada disini?,apakah ada kata yang lebih tinggi dari kata terimakasih,jikalau ada,akan ku katakan itu padamu,dalam pergimu,masih saja kau memikirkan orang sepertiku.Belum sempat aku mengatakan aku mencintainya,dia telah pergi.Thank you for everthing!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar